Jumat, 20 Februari 2009

pengembangan wilayah kabupaten situbondo

B.Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya
Kawasan Hutan Produksi
Kawasan hutan di Kabupaten Situbondo pada dasarnya terbagi dalam kawasan hutan rakyat dan tegakan kayu serta hutan bakau. Hutan rakyat yang terbesar terletak di Kecamatan Banyuglugur (210 Ha), kemudian Arjasa (100 Ha) dan Kendit (98,02 Ha). Hutan tegakan kayu yang terbesar adalah Bungatan (548,24 Ha), disusul Kendit (136,63 Ha), selanjutnya adalah Situbondo (117,50 Ha) dan Panji (117,59 Ha).
Hutan tersebut merupakan kawasan hutan produksi yang sebagian besar menghasilkan kayu jati dan rimba, kayu bakar, lak dan getah pinus. Produksi kehutanan yang paling dominan berada di Kecamatan Banyuputih, yaitu hutan jati di perbatasan Taman Nasional Baluran dengan Banyuwangi Utara, selanjutnya adalah Kendit dan Bungatan. Produksi jati gelondongan 2004 sebesar 3,995 m3, dengan nilai produksi Rp.7,51 milyar. Sedangkan produksi kayu bakar jati sebanyak 34 m3 nilai produksi Rp.2,07 juta. Produksi hasil hutan lainnya berupa lak cabang dengan produksi 908 ton (Rp.182,52 juta), sedangkan produksi lainnya nilainya masih relatif kecil.

Rencana Pengembangan Pertanian
Langkah kebijaksanaan yang perlu dilakukan adalah peningkatan mutu intensivikasi dengan sasaran untuk meningkatkan produksi/ produktivitas serta peningkatan luas panen.
Program pengembangan antara lain:
•Peningkatan lahan sawah dari semi teknis menjadi irigasi teknis
•Peningkatan lahan sawah irigasi sederhana menjadi menjadi sawah irigasi sederhana
•Peningkatan lahan sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi sederhana
•Kemungkinan pengembangan areal sawah dari lahan tegal yang potensial untuk sawah dan memerlukan penelitian khusus.
Pengembangan areal pertanian tanaman pangan dapat dilaksanakan secara maksimal pada kondisi fisik:
a.Kemiringan tanah antara 0 - 15%
b.Ketinggian tempat antara 0 - 500 meter di atas permukaan air laut.
c.Jenis tanah mengandung unsur alluvial, litosol, latosol dan gromosol.
Perencanaan pengembangan tanaman pangan padi dapat difokuskan menjadi tiga wilayah Satuan Wilayah Pengembangan (SWP), yaitu SWP Barat, Tengah dan Timur. Perencanaan pengembangan komoditas tanaman pangan padi di SWP Bagian Barat yaitu di daerah Banyuglugur, Jatibanteng, Sumbermalang, Mlandingan dan Bungatan. Rencana pengembangan tanaman pangan padi di wilayah SWP Tengah adalah Kendit, Situbondo, Panji. Rencana pengembangan SWP bagian Timur untuk tanaman pangan padi adalah Asembagus dan Banyuputih. Secara keseluruhan wilayah sentra pengembangan padi adalah Besuki, Suboh, Panarukan, Kapongan, Arjasa, dan Jangkar merupakan daerah sentra basis tanaman pangan padi. Wilayah Sumbermalang, Jatibanteng, Bungatan dan Mlandingan merupakan daerah sentra basis padi gogo.
Rencana pengembangan tanaman pangan palwija, yaitu jagung, ketela pohon, dan kedele di SWP Bagian Barat yaitu di daerah Banyuglugur, Jatibanteng, Sumbermalang, Mlandingan dan Bungatan. Sedangkan Besuki dan Suboh merupakan daerah basis sentra tanaman pangan jagung dan kedele. Rencana pengembangan tanaman pangan jagung, ketela pohon dan kedele di wilayah SWP Tengah adalah Kendit, Situbondo, Panji. Sedangkan Panarukan dan Kapongan merupakan daerah basis sentra tanaman pangan padi. Rencana pengembangan SWP Bagian Timur untuk tanaman pangan jagung, ketela pohon dan kedele adalah Asembagus dan Banyuputih. Sedangkan Arjasa dan Jangkar merupakan daerah basis sentra tanaman pangan ubi kayu.
Rencana pengembangan tanaman pangan kacang tanah yaitu di daerah Kendit, Situbondo, dan Panji. Sedangkan kacang hijau dapat direncanakan di daerah Jatibanteng, Sumbermalang, Mlandingan, Bungatan, Kendit, Situbondo dan Panji.

Tanaman Hortikultura
Komoditi tanaman hortikultura khususnya buah-buahan berdasarkan kelas kesesuaian lahan termasuk dalam kelas S1 dan bahkan S2 dengan faktor pembatas ketersediaan air khususnya curah hujan, jumlah curah hujan yang optimum. Selain itu laju erosi juga menjadi faktor pembatas karena disyaratkan antara 15 sampai 40% sedangkan kemiringan optimal yang dikehendaki kurang dari 8%. Solusinya pengelolaan lahan dilakukan secara terpadu, yaitu dibuat saluran irigasi dan drainase pada lahan-lahan yang sudah dibuat teras-teras supaya tidak terjadi genangan dan mengurangi sudut lereng sehingga erosi dapat dikurangi. Perlu penambahan pupuk organik, misalnya kotoran sapi, ayam atau yang lainnya sehingga dapat membantu meningkatkan unsur hara pada daerah yang mempunyai solum tanah yang dangkal sehingga kesuburan tanah bertambah dan hasil tanaman pisang hijau meningkat.

Kawasan Perikanan
Luas wilayah pantai Kabupaten Situbondo mencapai 132 km2 lebih. Kondisi geografis tersebut menjadikan Situbondo kaya potensi sumberdaya alam yang berasal dari laut. Upaya pengembangan potensi laut ini terkait dengan usaha pemerintah daerah untuk mengangkat kelompok nelayan dari kemiskinan, selain untuk kembali menggairahkan kondisi perekonomian Situbondo secara umum.
Produksi budidaya tambak, kolam dan penangkapan dari perairan umum, seperti ikan lele, mujair, udang windu, putih, bandeng, gurami, tombro, nila gift, tawas dan lainnya mengalami kenaikan dari 332,90 ton menjadi 539,70 ton dengan nilai produksi tahun 2004 mencapai Rp.25,32 milyar.
Selain itu produksi ikan olahan, seperti pindang mengalami kenaikan dari 5.133,50 ton menjadi 5883,30 ton atau naik 14,61 persen dan ikan kering mengalami kenaikan dari 105 ton menjadi 144.20 ton atau naik 33 persen.
Rencana pengembangan potensi sarana perekonomian perikanan dapat diuraikan sebagai berikut:
1.Memberdayakan potensi desa dan meningkatkan pendapatan masyarakat, melalui pembuatan kolam ikan. Lokasi Wringin Anom - Jatibanteng.
2.Meningkatkan hasil penangkapan ikan oleh nelayan, melalui pengadaan motor tempel. Lokasi Klatakan - Kendit.
3.Meningkatkan pendapatan petani khususnya saat ikan melimpah, melalui pengembangan TPI dan timbangan kompas dalam rangka refungsionalisasi TPI. Lokasi Semiring, Tanjung Pecinan, Tanjung Kamal Kecamatan Mangaran.
4.Meningkatkan produksi hasil penangkapan ikan nelayan, melalui modifikasi alat tangkap ikan. Lokasi Semiring, Tanjung Pecinan, Tanjung Kamal Kecamatan Mangaran dan Jangkar.
5.Membantu jalannya kegiatan pelelangan, melalui pengadaan sarana TPI dalam rangka peningkatan status TPI tingkat provinsi di Pondok Mimbo - Banyuputih.
6.Mempermudah koordinasi dalam memanfaatkan hasil laut, melalui Sarana Kelembagaan Sektor Perikanan dalam rangka pemberdayaan KUD Mina, Perda dan retribusi TPI. Lokasi Besuki, Suboh, Panarukan, Jangkar dan Banyuputih.

Kawasan Perkebunan
Kawasan perkebunan yang dapat dikembangkan di kabupaten Situbondo adalah komoditi kelapa, kopi, tebu, tembakau, kapuk, kapas, asam jawa, siwalan, cengkeh, jambu mente, pinang dan biji jarak. Tanaman perkebunan pada dasarnya dapat dibedakan dalam tanaman semusim (season plant) dan tanaman tahunan (annual plant).
Komoditi tanaman perkebunan berdasarkan kelas kesesuaian lahan termasuk dalam kelas S1 dan bahkan S2 dengan faktor pembatas ketersediaan air. Solusinya pengelolaan lahan dilakukan secara terpadu, yaitu dibuat saluran irigasi dan drainase misal saluran pembungangan air (SPA), supaya tidak terjadi penggenangan dan mengurangi sudut lereng sehingga erosi dapat dikurangi. Perlu dibuat teras bangku, dengan fasilitas pemerintah. Perlu penambahan pupuk organik, misalnya kotoran sapi, ayam atau yang lainnya sehingga dapat membantu meningkatkan unsur hara pada daerah yang mempunyai solum tanah yang dangkal sehingga kesuburan tanah bertambah dan hasil tanaman pisang hijau meningkat. Untuk komoditi kapas perlu penambahan dolomit, saluran irigasi ataupun saluran pembuangan air.

Kawasan Peternakan
Kebutuhuna akan ternak di Kabupaten Situbondo sampai dengan saat ini masih dipasok dari Pulau Madura melalui Pelabuhan Kalbut Mangaran, sedangkan ayam bibit dipasok dari Surabaya dan dari kabupaten lainnya.
Peternakan yang ada di Kabupaten Situbondo masih merupakan peternakan perorangan, sehingga sampai saat ini belum ada kawasan khusus yang dijadikan sebagai tempat peternakan.
Bertolak dari tujuan pembangunan peternakan, maka diperlukan adanya:
a.Peningkatan produksi dan populasi ternak untuk mencapai swasembada protein hewani
b.Meningkatkan pendapatan petani ternak dan pemerataan kesempatan kerja.

Kawasan Pariwisata
Pengembangan kawasan pariwisata di Situbondo, dapat dikelompokan menjadi 3 zona sebagai berikut:
1.Zona Tengah:
Pantai Pasir Putih - Makam Raden Tjondrokusumo - Petilasan Syeikh Maulana Ishaq - Pantai Gelung - Pelabuhan Kalbut - Pabrik Gula Olean.
2.Zona Barat:
Pelabuhan Rakyat Besuki - Pemandian Banyu Anget - Pemandian Taman - Alam Desa Baderan - Kompleks Makam Boro - Puncak Rengganis
3.Zona Timur:
Taman Nasional Baluran - Pantai Bama - Pesantren Salafiyah Syafi’iyah - Pelabuhan Jangkar - Air Terjun Setancak - Agro Wisata Kayumas.
Kawasan Pemukiman
•Kawasan Pemukiman Perkotaan
Untuk Kabupaten Situbondo yang termasuk dalam kawasan permukiman perkotaan adalah pemukiman yang berada di kecamatan terutama pada lingkup wilayah ibu wilayah kecamatan. Permukiman juga akan berkembang pada kawasan pintu keluar tol. Permukiman ini biasanya masuk dalam perumahan formal yang diperuntukan kepada golongan ekonomi menengah ke atas.
•Kawasan Pemukiman Pedesaan
Kabupaten Situbondo yang termasuk di dalam kawasan ini terletak di semua desa yang berada dalam kawasan pusat desa. Kawasan pusat desa dalam hubungan ini perlu adanya penataan ruang khusus yang dijabarkan dalam rencana penataan kawasan yang dijabarkan dalam rencana penataan kawasan pusat desa.

Kawasan Perindustrian
Kawasan/ lokasi kegiatan perindustrian yang direncanakan terdapat di wilayah Kabupaten Situbondo dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
1.Kawasan industri besar, direncanakan terkumpul di Kecamatan Mangaran
2.Kawasan industri menengah direncanakan terkumpul di Kecamatan Besuki
3.Kawasan industri kecil dan industri rumah tangga, bisa terdapat di semua kecamatan tetapi sedapat mungkin tidak mengganggu lingkungan sekitarnya.

Kawasan Pertambangan
Wilayah Kabupaten Situbondo memiliki potensi yang cukup besar akan bahan tambang khususnya bahan tambang/ galian golongan C.
Jenis bahan yang sampai saat ini ada dan sebagian telah diusahakan adalah:
a.Batu Tras terdapat di : Kecamatan Panarukan, Situbondo, Kapongan, Arjasa, Asembagus, Panji.
b.Tanah liat terdapat di : Kecamatan Situbondo, Banyuputih
c.Galian Pasir terdapat di : Kecamatan Banyuputih, Situbondo, Panarukan, Kecamatan Besuki.
d.Batu Kali terdapat di : Kecamatan Mlandingan, Kendit
e.Batu Kapur terdapat di : Kecamatan Situbondo, Panarukan.
Permasalahan di sektor pertambangan bahan galian golongan C ini terutama menyangkut:
-Kelestarian alam dan lingkungan, dimana usaha-usaha penambangan tersebut dapat merusak dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya.
-Kemungkinan semakin meningkatnya usaha penambangan liar di berbagai tempat yang sulit diawasi.
Usaha-usaha Pemerintah Daerah dalam menangani permasalahan ini antara lain melakukan pengawasan dan pemeriksaan di lapangan terhadap perizinan, tingkat kegiatan dan wilayah usaha pertambangan yang ada.

Kawasan Khusus
Kawasan khusus di Kabupaten Situbondo terutama menyangkut lokasi/ daerah untuk kegiatan “Latihan Militer TNI”, di mana lokasinya berada di wilayah Kecamatan Asembagus, Kecamatan Jangkar dan Kecamatan Banyuputih. Hal yang perlu diantisipasi adalah faktor keamanan terhadap penduduk yang bertempat tinggal dekat lokasi latihan, serta faktor-faktor lain yang kemungkinan dapat merugikan masyarakat setempat.
Berkenaan dengan Kawasan Khusus akan terkait dengan jalur penempatan jalan tol dan permukiman yang diletakkan menjauh.

Rencana Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Laut
Rencana pengembangan Kawasan pesisir dan laut didasarkan pada pemanfaatan potensi-potensi daerah pesisir dan laut yang berorientasi pada peningkatan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Kawasan pesisir merupakan pertemuan antara daratan dan lautan, untuk ke arah daratan, kawasan pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin, sedangkan untuk daerah laut mencakup bagian laut yang masih dipengarui oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Adapun rencana batas pengelolaan wilayah pesisir dan laut ditetapkan sepanjang 4 mil dari pasang tertinggi ke arah laut.
pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut dalam rangka pengembangan ekonomi nasional telah menempatkan wilayah Situbondo pada posisi yang sangat strategis. Berbagai pembangunan sektoral, regional, swasta dan masyarakat yang memanfaatkan kawasan pesisir seperti sumberdaya perikanan, lokasi resort, wisata, pertambangan lepas pantai, pelabuhan laut, industri dan reklamasi kota pantai serta pangkalan militer. Hal tersebut perlu disertai dengan pengendalian ekosistem berlandaskan pada perencanaan ruang wilayah pesisir dan laut dengan mempertimbangkan pada:
a.Penataan ruang yang partisipatif
b.Orientasi pada kesejahteraan masyarakat
c.Pertumbuhan ekonomi
Wilayah pesisir pada umumnya memiliki potensi sumberdaya alam daratan (terestrial) yang sangat terbatas, tetapi sebaliknya memiliki potensi sumberdaya kelautan yang cukup besar. Secara garis besar rencana pengelolaan potensi kawasan pesisir dan laut di Situbondo adalah sebagai berikut:
1.Perikanan : Pondok Mimbo, Panarukan, Besuki
2.Tambak : Banyuglugur, Besuki, Suboh, Mangaran, Kapongan, Panarukan, Mlandingan, Arjasa, Jangkar, Banyuputih.
3.Keramba Jaring Apung : Kendit, Panarukan
4.Hachery : Banyuglugur, Bungatan, Kendit, Panarukan, Kapongan
5.Rumput Laut : Banyuglugur, Besuki, Suboh.
6.Mangrove : Banyuglugur, Suboh, Bungatan, Mlandingan, Mangaran, Banyuputih
7.Wisata : Pasir Putih, Wana Wisata Gunung Tampora, Petilasan Syeikh Maulana Ishaq, Pelabuhan Panarukan, Pantai Gelung, Pelabuhan Jangkar, Pantai Bama, Taman Nasional Baluran
8.Pelabuhan : Besuki (lokal), Panarukan (regional), Kalbut (nasional), Jangkar (lokal)
9.Industri : Paiton, Tanjung Pecinan.

Rencana Sarana dan Prasarana
Rencana Sarana dan Prasarana Transportasi
Beberapa komponen sistem transportasi jalan yang patut mendapat perhatian dan diperlukan suatu rencana pengembangan meliputi:
1. Rencana Sistem Jaringan Jalan
Secara umum langkah-langkah di dalam pengembangan sistem transportasi jalan raya di Kabupaten Situbondo sebagai berikut:
1.Peningkatan jaringan jalan sampai ke pelosok desa, sehingga semua daerah di Kabupaten Situbondo dapat terjangkau
2.Memperbaiki jalan desa yang sebagian besar masih merupakan jalan tanah, ditingkatkan menjadi jalan makadam atau jalan aspal.
3.Peningkatan jaringan jalan dan pembuatan jalan baru serta peningkatan sarana angkutan umum ke daerah-daerah wisata.
4.Peningkatan kondisi jalan yang ada disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5.Meningkatkan sarana angkutan umum, agar mempermudah pergerakan antar desa/ wilayah sehingga menunjang pemasaran hasil pertanian maupun hasil industri.

Perbaikan dan peningkatan jenis perkerasan jalan dari kondisi eksisting berupa jalan tanah dan batu menjadi jalan batu dan jalan aspal. Peningkatan dan perbaikan jalan ini berkaitan dengan beban kendaraan yang melintasi ruas jalan tersebut, sehingga diharapkan kondisi jalan tidak cepat rusak. Selain itu, diperlukan pelebaran jalan sesuai dengan volume lalu-lintas dan ukuran kendaraan yang melewatinya. Jalan-jalan yang perlu diperlebar adalah jalan di Desa Peleyan menuju Desa Gelung sampai Desa Tanjung Glugur dan berakhir di Desa Kesambi Rampak di Panji Kapongan (sebagai outer ringroad utara) (tahap 1: 2005 sampai dengan 2008), jalan di sekitar Ibu Kota Kecamatan (IKK) disesuaikan dengan fungsi jalan tersebut, juga jalan di dalam area Taman Nasional Baluran.
Rencana pembangunan jalan baru ini meliputi ruas; jalah Desa Kilensari menuju Desa Sumberkolak sampai Klapokan Wetan dan berakhir di Wonokoyo Kecamatan Kapongan (sebagai outer ringroad selatan) (tahap 2: tahun 2009 sampai dengan 2015), di wilayah Desa Kayumas sampai kawasan Wisata Ijen, jalan menuju Puncak Rengganis dari jalan Desa Taman Kursi dan juga menghubungkan kawasan tempat pelelangan ikan (TPI) Pondok Mimbo di Kecamatan Banyuputih dengan daerah sekitarnya. Pembangunan jalan baru ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan di sekitar Kota Situbondo dan membuka kawasan pariwisata yang ada di wilayah Kabupaten Situbondo.

2. Rencana Sarana dan Prasarana Transportasi
Rencana Terminal
Prasarana transportasi yang perlu mendapat perhatian adalah terminal. Kelancaran, kenyamanan serta keamanan dalam pelaksanaan angkuatan umum sangat tergantung kepada beberapa prasarana transportasi yang menunjang hal tersebut. Walaupun keberadaannya telah dirasa memenuhi kebutuhan, namun pada kenyataannya sarana dan prasarana penunjang perlu diperbaiki.
Lokasi terminal induk ditetapkan di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, sedangkan “terminal antara” untuk wilayah timur Kota Situbondo terletak di Lapangan Sepak Bola Kapongan. Untuk wilayah selatan Kota Situbondo di pertigaan jalan selatan Asrama Tentara Kompi 514 dan jalan menuju Kampus UNARS Sumberkolak. Sedangkan untuk wilayah utara ditempatkan di Pelabuhan Kalbut. Dengan adanya terminal induk dan beberapa terminal antara ini maka sistem transportasi di Kabupaten Situbondo dapat berjalan dengan lancar dan tertib.

Rencana Angkutan Umum
Dewasa ini transportasi mempunyai peranan yang sangat penting karena kemajuan dalam bidang transportasi dapat memperpendek jarak dan waktu tempuh. Angkutan kota menjadi salah satu alat transportasi yang cocok untuk menggantikan angkutan umum antar kota yang selama ini melewati Kota Situbondo. Angkutan kotan yang merupakan public service, dituntut dari waktu ke waktu untuk selalu menyesuaikan diri secara kualitatif sesuai dengan perkembangan kota, sehingga antar kota yang satu dengan yang lainnya akan berbeda.
Sedangkan untuk menampung pergerakan penduduk dan barang di wilayah-wilayah lain di Kabupaten Situbondo, adanya angkutan umum yang selama ini melayani dirasa masih dapat mencukupi hingga akhir tahun perencanaan.

3. Rencana Jalan Tol
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRW-P) Jawa Timur, menyebutkan adanya rencana pengembangan jaringan jalan tol mulai dari Surabaya sampai Banyuwangi. Sebagai salah satu daerah antara wilayah tersebut, tentunya wilayah Kabupaten Situbondo akan dilewati oleh jalan tol tersebut. Ada 2 alternatif penempatan jaringan jalan tol yang melewati Kabupaten Situbondo, di mana masing-masing alterntif memberikan keuntungan dan kerugian secara ekonomi, teknis dan pengembangan wilayah Kabupaten Situbondo.
Hal yang perlu diperhatikan dengan adanya jalan tol adalah sedapat tidak membatasi atau memisahkan wilayah utara dan selatan Kabupaten Situbondo, jalan tol tersebut tidak mengganggu pemanfaatan tata ruang Kabupaten Situbondo, kemudian penempatan pintu tol sedapat mungkin ditempatkan di daerah yang bukan daerah produktif, sehingga keberadaan pintu tol tersebut tidak mengganggu potensi pertanian Kabupaten Situbondo secara keseluruhan.

4. Rencana Jaringan Kereta Api
Jaringan kereta api yang terdapat di Kabupten Situbondo melayani pergerakan Panarukan - Bondowoso - Kalisat - Jember PP. Berdasarkan dari masyarakat, kereta api masih merupakan salah satu sarana transportasi yang dibutuhkan masyarakat. Pembukaan kembali jaringan jalan kereta api di wilayah Kabupaten Situbondo dimungkinkan kembali jika semua fasilitas yang mendukung sistem transportasi ini telah tersedia, di antaranya perbaikan rel, stasiun kereta api, dan persimpangan antara jalan rel dengan jalan raya.

Pelabuhan Laut
Pelabuhan-pelabuhan di Kabupaten Situbondo merupakan pelabuhan lokal/ antar pulau yang melayani angkutan penumpang dan barang secara terbatas. Pelabuhan yang perlu ditingkatkan peranannya adalah pelabuhan yang saat ini masih berfungsi yaitu:
1.Pelabuhan Besuki
2.Pelabuhan Panarukan
3.Pelabuhan Kalbut
4.Pelabuhan Jangkar
Selain ke empat pelabuhan di atas, terdapat beberapa lokasi pelabuhan rakyat yang fungsinya mendukung kegiatan perikanan pada perairan umum (Selat Madura). Pelabuhan-pelabuhan tersebut adalah:
 Pelabuhan Wonorejo di Kecamatan Banyuputih
 Pelabuhan Kapongan di Kecamatan Kapongan
 Pelabuhan Pondok Mimbo di Kecamatan Mangaran
 Pelabuhan Blitok di Kecamatan Bungatan
Kegiatan-kegiatan pada pelabuhan tersebut tidak dikembangkan secara luas, namun hanya sebagai prasarana penunjang lokal setempat (menunjang kegiatan perikanan laut).

5. Rencana Sistem Sarana dan Prasarana Pengairan
Air Bersih
Berdasarkan Petunjuk Perencanaan Kawasan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum, kebutuhan air bersih untuk kawasan pedesaan diambil kebijaksanaan 60 liter/orang/hari, mengingat sebagian masyarakat masih menggunakan sumber sumur dangkal. Sedangkan kawasan perwilayahan dengan standar kebutuhan 120 liter/orang/hari.
Diperkirakan 40% penduduk Wilayah Situbondo berdiam di kawasan perwilayahan, sedang sisanya tersebar daerah pedesaan.
Tingkat kebutuhan pelayanan air bersih di Kabupaten Situbondo tahun 2015 diperkirakan mencapai 174 liter/hari.

Kebijaksanaan pengembangan utilitas air bersih di Kabupaten Situbondo, antara lain:
 Pengembangan fasilitas air bersih pada wilayah-wilayah kecamatan yang belum terdapat instalasi penglolaan air bersih.
 Pendistribusian air bersih yang merata di wilayah peerwilayahan dengan penambahan jaringan distribusi
 Pengembangan instalasi air bersih pada kawasan wisata potensial.

Irigasi
Pengembangan jaringan irigasi terkait dengan fungsi kawasan pertanian, di mana jaringan yang ada harus dapat menunjang dengan optimal dan efisien sistem pengairan yang ada.
Panjang saluran irigasi dalam wilayah Kabupaten Situbondo tahun 1997 mencapai 270,047 Km yang tesebar pada 24 daerah irigasi sedangkan jumlah bangunan waduk/ bendung sebanyak 41 buah.

Drainase
Pengembangan Drainase dalam rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Situbondo dibagi dalam dua kategori, yaitu:
1. Pengembangan drainase skala makro, meliputi perencanaan teknis dan pengembangan drainase di luar kawasan perkotaan, antara lain pada jaringan jalan utama kawasan pengembangan, kawasan industri, dan sebagainya.
2. Pengembangan drainase skala mikro, merupakan perencanaan teknis dan pengembangan drainase di wilayah perkotaan, antara lain drainase pada wilayah perdagangan, jalan utama kota, permukiman, dan kawasan komersial lainnya.

Pengembangan drainase didasarkan pada tingkat perencanaan yang disesuaikan dengan pola pengembangan kawasan, dan terdiri dari:
1.Drainase Sistem Primer
2.Drainase Sistem Sekunder
3.Drainase Sistem Tersier

Pada beberapa kawasan tertentu di Wilayah Situbondo drainase saluran irigasi juga merupakan pembuang bagi sistem utama drainase, maka diperlukan bangunan yang dapat mengatur sirkulasi air secara efisien.
Perkembangan drainase di wilayah Kabupaten Situbondo terutama terutama ditujukan bagi perencenaan teknis dan pengembangan drainase perkotaan, sedangkan di luar kawasan perkotaan terutama pada kawasan sepanjang jaringan Arteri Primer.

Rencana Sistem Sarana dan Prasarana Telekomunikasi
Pengembangan jaringan telepon terutama ditujukan guna mengantisipasi permintaan sambungan baru, baik di kawasan perwilayahan maupun di pedesaan.
Pelayanan telepon untuk umum dapat dikembangkan di pusat-pusat kecamatan ataupun pada kawasan yang strategis, sedangkan pengembangan telepon umum khususnya di kawasan wilayah-wilayah utama dapat ditunjang oleh Warung Telekomunikasi (Wartel) pada tempat yang memenuhi syarat (daerah perdagangan, perkantoran, jasa).

Rencana Sistem Sarana dan Prasarana Energi
Berdasarkan Petunjuk Perencanaan Kawasan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum, kebutuhan listrik pada suatu wilayah terdiri dari:
•Rumah tangga tipe kecil : 450 w/KK
•Rumah tangga tipe sedang : 900 w/KK
•Rumah tangga tipe besar : 1300 w/KK
•Industri : 25% dari standar kebutuhan RT
•Fasilitas Sosial : 25% dari standar kebutuhan RT
•Rugi Daya : 10% dari standar kebutuhan RT
•Cadangan : 10% dari satndar kebutuhan RT
•Penerangan Jalan : 40% dari standar kebutuhan RT

Pengembangan pelayanan listrik dalam hal ini perlu ditunjang oleh penambahan jaringan penggunaan adalah untuk rumah tangga, fasilitas sosial dan kegiatan komersial.
Kebijakan dalam pengembangan utilitas listrik antara lain:
 Pengembangan/ peningkatan jaringan distribusi tegangan menengah ke pusat kegiatan fungsional (pusat kecamatan, pusat desa, pusat kegiatan industri rakyat, dsb)
 Peningkatan jaringan distribusi pada lingkungan pemukiman baru di kawasan perwilayahan
 Peningkatan gardu pendistribusian pada kawasan yang diprioritaskan
Rencana Sistem Sarana dan Prasarana Pengelolaan Lingkungan
Pengembangan sistem persampahan terutama ditujukan pada kawasan yang mempunyai tingkat perkembangan kegiatan tinggi dan kawasan potensial, yaitu:
 Pada kawasan wilayah/ perwilayahan
 Pada kawasan pariwisata
Penganganan sistem persampahan dalam hubungan ini perlu ditunjang oleh penyediaan sarana dan prasarana persampahan seperti tenaga pengelola, angkutan truk sampah, gerobak sampah serta kontainer terpasang.
Untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, perlu dicari pada lokasi yang jauh dari permukiman penduduk dan pada lahan yang tidak produktif.

Analisis Pengembangan Produk Unggulan

Pertumbuhan tidak terjadi disembarang tempat dan juga tidak terjadi secara serempak, tetapi pertumbuhan terjadi pada titik-titik atau kutub-kutub pertumbuhan dengan intensitas yang berubah-ubah. Kemudian pertumbuhan ini menyebar sepanjang saluran yang beraneka ragam terhadap keseluruhan perekonomian. Jadi ditinjau dari sudut lokasi kegiatan ekonomi dan pembangunan daerah, pembangunan ekonomi tidak merata terjadinya di berbagai daerah dan mempunyai kecenderungan untuk mengelompok pada kutub pertumbuhan. Kutub-kutub pertumbuhan ini akan menentukan dan mendominasi perkembangan daerah lain yang akan lebih lambat perkembangan ekonominya (Usman, 1998).
Interpretasi geografis daripada kutub pertumbuhan sesungguhnya lebih banyak merupakan suatu pole of attraction yang menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berkumpul di suatu tempat, tanpa adanya interaksi (hubungan) antara usaha-usaha tersebut. Aktivitas-aktivitas ekonomi itu berkembang di suatu tempat (space), maka perkembangan ini menyangkut perkembangan geografis. Kutub pertumbuhan mempunyai potensi perkembangan bagi unsur-unsur ekonomis lainnya yang tidak ada, sehingga dapat menimbulkan permulaan suatu proses perkembangan spreading effect (trickling down effect) terhadap daerah sekitarnya apabila tidak terdapat suatu keunggulan (keuntungan) komparatif (comparative advantage) yang dimiliki daerah tersebut.
Konsep keunggulan komparatif atau juga biaya relatif diterapkan dalam perekonomian terbuka. Adanya asumsi bahwa perekonomian wilayah yang lebih luas di mana daerah-daerah itu berada, terdapat perdagangan antar daerah. Pola produksi masing-masing daerah ditentukan bukan hanya oleh tingkat pendapatan, melainkan juga oleh keunggulan komparatif atau biaya relatif dari masing-masing daerah. Artinya tiap daerah akan membutuhkan barang-barang dari daerah lain yang mempunyai keunggulan komparatif dalam hasil produksinya atau akan memproduksi barang-barang yang dapat diproduksikan dengan biaya harga yang relatif lebih murah daripada daerah-daerah lain.

Tidak ada komentar: