Senin, 01 Juni 2009

kehidupan dan karakteristik masyarakat perkotaan

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Menurut Durkheim Sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari fakta sosial. Durkheim berpendapat bahwa fakta sosial ialah cara-cara bertindak, berfikir, dan berperasaan , yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya.
Sedangkan menurut Weber sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Karena sosiologi bertujuan memahami mengapa tindakan ssosial mempunyai arah dan akibat tertentu, sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subjektif bagi pelakunya, maka ahli sosiologi harus dapat membayangkan dirinya di tempat pelaku agar dapat ikut menghayati pengalamannya.
Mills memiliki pandangan bahwa manusia memerlukan khayalan sosiologis untuk dapat memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Untuk melakukannya diperlukan dua peralatan pokok: apa yang dinamakan personal troubles of milieu dan public issues of social structure.
Berdasarkan definisi diatas mengenai pengertian sosoiologi maka dapat dikemukakan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masyarakat baik aktivitas yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan juga yang akan terajdi. sehingga pemahaman terhadap suatu tindakan tertentu akan memberikan penilaian yang subyektif tergantung pada pelaku tindakan.
Sejumlah ahli sosiologi mengklasifikasikan pokok bahasan sosiologi ke dalam dua bagian, namun ada pula yang membagi ke dalam tiga bagian. Selznick dan Broom membedakan antara tatanan makro dan tatanan mikro, Douglas membedakan antara perspektif makrososial dengan perspektif mikrososial, Jhonson membedakan antara jejang makro dan jenjang mikro, dan Collins membedakan antara sosiologi makro dan sosiologi mikro. Lenski mengemukakan bahwa dalam sosiologi terdapat tiga jenjang analisa: sosiologi mikro, sosiologi meso, dan sosiologi makro. Inteleks pun melihat bahwa sosiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas, yaitu hubungan sosial, institusi, dan masyarakat.
pokok bahasan diatas akan memberikan pemahaman yang berbeda tergantung pada di mana aktivitas itu terjadi. maksudnya bahwa dalam memenahami pokok bahasan sosiologi yaitu hubungan sosial, institusi, dan masyarakat maka kita harus melihat dimana lokasi aktivitas itu terjadi karena wilayah akan memberikan pengaruh terhadap hubungan sosial, institusi dan masyarakat. misalnya saja masyarakat desa dan masyarakat kota dengan segala potensi dan permasalahan yang terjadi di dalamnya, maka akan menimbulkan hubungan, kehidupan dan karakteristik masyarakat yang berbeda.
Berangkat dari permasalahan tersebut maka perlunya suatu tulisan mengenai kehidupan dan karakteristik masyarakat perkotaan dengan bentuk interaksi yang beragam mulai dari mikro, meso dan makro sosiologi sehingga nantinya dapat digambarkan mengenai karakteristik masyarakat perkotaan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah interaksi mikro, meso dan makro sosiologi masyarakat perkotaan di Kota Malang?
2. Bagaimanakah karakteristik masyarakat perkotaan di Kota Malang?
3. Bagaimanakan sifat-sifat masyarakat perkotaan di Kota Malang?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui interaksi mikro, meso dan makro sosiologi masyarakat perkotaan di Kota Malang.
2. Untuk mengetahui karakteristik masyarakat perkotaan di Kota Malang.
3. Untuk mengetahui sifat-sifat masyarakat perkotaan di Kota Malang.

D. kegunaan
Adapun kegunaan dari karya ilmiah ini adalah:
1. Untuk dapat menggambarkan kehidupan masyarakat perkotaan dalam interaksi mikro. Meso dan makro di Kota Malang.
2. Untuk dapat mendeskripsikan karakteristik dan sifat masyarakat kota di Kota Malang.








BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A INTERAKSI MIKRO, MESO, DAN MAKRO SOSIOLOGI
1. Interaksi Sosial
Interaksi sosial terjadi karena adanya sifat dasar manusia yang merupakan makhluk sosial yang selalu ingin berhubungan dan didasari oleh kebutuhan manusia yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka interaksi sosial ini terjadi. Dalam pendekatan interaksi sosial dapat terjadi dengan beberapa cara salah satunya adalah pendekatan interaksionisme simbolis. Pendekatan ini bersumber pada pemikiran Mead. Symbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh orang yang mempergunakannya. Makna atau nilai tersebut hanya dapat ditangkap melalui cara-cara non-sensoris.
Menurut Blumer pokok pikiran interaksionisme ada tiga: manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dipunyai sesuatu tersebut baginya, makna yang dipunyai tersebut berasal atau muncul dari hasil interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya, dan makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran, yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya.
Thomas dikenal dengan ungkapannya bahwa bila orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekuensinya nyata. Yang dimaksudkannya di sini ialah bahwa definisi situasi yang dibuat orang akan membawa konsekuensi nyata. Thomas membedakan antara definfisi situasi yang dibuat secara spontan oleh individu, dan definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat, yaitu ia melihat adanya persaingan antara kedua macam definisi situasi tersebut.
Hall mengemukakan bahwa dalam interaksi dijumpai aturan-aturan tertentu dalam hal penggunaan ruang. Dari penelitiannya hall menyimpulkan bahwa dakam situasi sosial orang cenderung menggunakan empat macam jarak, yakni jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik.
Hall antara lain membahas pula aturan mengenai waktu. Hall mencatat bahwa dalam masyarakat berbeda dijumpai pengguanaan waktu secara berbeda karena adanya persepsi berbeda mengenai waktu. Menurut Hall dalam interaksi kita tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan orang lain tetapi juga apa yang dilakukannya. Komunikasi nonverbal atau bahasa tubuh kita gunakan secara sadar maupun tidak untuk menyampaikan perasaan kita kepada orang lain. Studi sosiologis terhadap gerak tubuh dan isyarat tangan ini dinamakan kinesics.
Karp dan Yoels mengemukakan bahwa untuk dapat berinteraksi seseorang perlu mempunyai informasi mengenai orang yang berada di hadapannya. Manakala kita tidak mengetahui riwayat hidupnya dan/atau kebudayaannya maka interaksi sukar dilakukan. Sumber-sumber informasi yang disebutkan Karp dan Yoels adalah ciri fisik yang diwarisi sejak lahir seperti jenis kelamin, usia, dan ras serta penampilan – daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan percakapan.
Menurut Goffman dalam suatu perjumpaan masing-masing pihak membuat pernyataan dan memperoleh kesan. Ia membedakan dua macam pernyataan: pernyataan yang diberikan dan pernyataan yang dilepaskan. Menurutnya masing-masing pihak berusaha mendefinisikan situasi dengan jalan melakukan pengaturan kesan.
Knapp membahas berbagai tahap yang dapat dicapai dalam interaksi. Tahap-tahap interaksi tersebut terbagi dalam dua kelompok besar, yakni tahap-tahap yang mendekatkan peserta interaksi, dan tahap-tahap yang menjauhkan mereka.
Dalam interaksi sosial dikenal tiga macam interaksi yang dapat terjadi yaitu mikro, meso dan makro sosiologi. Pengertian miKro, meso, dan maKro dalam sosiologi dapat dianalogikan dengan kelompok sosial kecil, sedang, dan besar. Dalam sosiologi mikro kita berbicara misalnya tentang single mother, hubungan orang tua-anak, sepasang kekasih, keluarga, pernikahan usia dini. Dalam soiologi meso kita berbicara antara lain mengenai pekerja PT Z di kota B, pekerja anak di Kabupaten Y, geng motor di Kota X, atau hubungan antaretnis di ibu kota Provinsi. Dalam sosiologi makro, kita dapat membahas masalah seperti program KB di Indonesia, pembagian BLT, dampak sosial konversi minyak tanah ke elpiji, atau jumlah pengakses internet di negara kita.

2. Kelompok Sosial
Kelompok sosial sangat penting karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung di dalamnya. Tanpa kita sadari sejak lair himgga ajal kita menjadi anggota berbagai jenis kelompok. Dengan menggunakan tiga criteria, yakni kesadaran jenis, hubungan satu sama lain, ikatan organisasi. Bierstedt membedakan empat jenis kelompok: kelompok asosiasi, keloompok sosial, kelompok kemasyarakatan, dan kelompok statistic.
Menurut Meton kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola-pola yang telah mapan sedangkan kolektifitas merupakan orang-orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagi nilai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral umtuk menjalankan harapan peranan. Konsep lain yang diajukan Merton ialah konsep kategori sosial.
Durkheim membedakan antara kelompok yang didasarkan pada solidairtas mekanis, dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organis. Solidaritas mekanis merupakan cirri yang menandai masyarakat yang sederhana, sedangkan solidaritas organis merupakan bentuk solidaritas yang mengikat masyarakat kompleks yang telah mengenal pembagian kerja yang rici dan diperastukan oleh kesalingtergantungan antar bagian.
Toennies mengadakan perbedaan antara dua jenis kelompok: Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft merupakan kehidupan bersama yang intim, pribadi dan eksklusif; suatu keterikatan yang dibawa sejak lahir. Gesellschaft merupakan kehidupan publik, yang terdirir atas orang-orang yang kenetulan hadir bersama tetapi masing-masing tetap amndiri dan bersifat sementara dan semu.
Cooley memperkenalkan konsep kelompok primer. Sebagai lsejumlah ahli sosiologi menciptakan konsep kelompok sekunder, yakni suatu konsep yang tidak kita jumpai dalam karya Cooley. Suatu kalidifikasi lain yaitu suatu pembedaan antara kelompok luar dan kelompok dalam, di dasarkan pada pemikiran Sumner. Sumner mengemukakan bahwa di kalangan anggota kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerjasama, keteraturan, dan kedamaian sedangkan hubungan antara kelompok dalam dengan kelompok luar cenderung ditandai kebencian, permusuhan, perang, dan perampokan.
Merton mengamati bahwa kadang-kadang perilaku seseorang mengacu pada kelompok lain yang dinamakan kelompok acuan. Di kala seseorang berubah keanggotaan kelompok, ia sebelumnya dapat menjalani perubahan orientasi, yaitu suatu proses yang oleh Merton diberi nama sosialisasi antisiaporis.
Suatu klasifikasi yang digali Geertz dari masyarakat Jawa adalah pembedaan anara kaum abangan, santri, dan priyayi. Menurut Geertz pembagian masyarakat yang ditelitinya ke dalam tiga tipe budaya ni didasarkan atas perbedaan pandangan hidup di antara mereka.
Menurut Webber dalam masyarakat modern kita mejumpai suatu sistem jabatan yang dinamakan birokrasi. Organisasi birokrasi yang disebutkan Weber mengandung sejumlah prinsip. Prinsip-prinsip tersebut hanya dijumpai pada birokrasi yang oleh Weber disebut tipe ideal, yang tidak akan kita jumpai dalam masyarakat.
Suatu gejala yang menarik perhatian banyak ilmuan sosial adalah berkaitan antara kelompok formal dan kelompok informal. Dalam organisasi formal akan terbentuk berbagi kelompok informal. Nilai dan aturan kelompok informal dapat bertentangan dengan nilai dan aturan yang berlaku dalam organisasi formal.

3. Stratifikasi Sosial
Pembedaaan anggota masyarakat berdasarkan status dinamakan stratifikasi sosial. Berdasarkan status yang diperoleh dengan sendirinya, kita menjumpai adanya berbagai macam stratifikasi. Anggota masyarakat dibedakan pula berdasarkan sttus yang dirihnya, sehingga menghasilkan berbagai jenis stratifikasi lain.
Dalam sosiologi kita mengenal perbedaan antara stratifikasi tertutup dan stratifikasi terbuka. Keterbukaan suatu sistem stratifikasi diukur dari mudah-tidaknya dan sering-tidaknya seseorang yang mempunyai status tertentu memperoleh status dalam strata yang lebih tinggi. Dalam sosiologi mobilitas sosial berarti perpindahan status dalam stratifikasi sosial. Mobilitas vertical mengacu pada mobilitas ke atas atau ke bawah dalam stratifikasi sosial. Ada pun apa yang dinamakan lateral mobility yang mengacu pada perpindahan geografis antara lingkungan setwmpat, kota, dan wilayah.
Di kalangan para ahli sosiologi kita menjumpai keanekaragaman dalam penetuan jumlah lapisan osial. Ada yang merasa cukup klasifikasi dalam dua lapisan, dan ada pula yang memebedakan antara tiga lapisan atau lebih. Barber memperkenalkan beberapa konsep ynag mempertajam konsep stratifikasi. Salah satu di antaaranya ialah konsep rentang, yang mengacu pada peredaan antara kelas teratas dengan kelas terbawah. Konsep terkait lainnya iala konsep bentuk, yang mengacu pada proporsi orang-orang yang terletak di kelas-kelas sosial yang berlainan.
Menurut Marx, lahir dan berkembangnya kapitalisme dan industri nodern mengakibatkan terpecahnya masyarakat menjadi dua kelas yang saling bermusuhan, yaitu kelas borjuis dan kelas proleter. Marx meramalkan bahwa melalui suatu perjuangan kelas kaum proletar akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas.
Pandangan Marx ini dikecam oleh banyak ilmuwan sosial. Kritik utama ditujukan pada diginakannya hanya satu dimensi, yaitu dimensi ekonomi, yaitu menetapkan stratifikasi sosial. Kritik lain ialah bahwa dalam kenyataan masyarakat industri mengenal lebih dari dua kelas.
Weber mengemukakan bahwa di saamping stratifikasi menurut dimensi ekonomi kita menjumpai pula stratifikasi menurut dimensi lain. Webwe memperkenalkan perbedaan antara konsep-konsep kelas, kelompok status, dan partai, yang merupakan dasar bagi pembedaannya antara tiga jenis stratifikasi sosial.
Pengaruh Weber Nampak dalam pandangan Peter Berger, yang mengartikan stratifikasi sebagai penjenjangan masyarakat menjadi hubungna atasan-bawahan atas dasar kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan. Pengaruh weber Nampak pula dalam karya Jeffries dan Ransford yang dengan menggunakan ukuran kekuasaan, hirarki kelas, dan hirarki status. Suatu hal yang ditekankan Weber ialah kemungkinan adanya hubungan antara kedudukan menurut beberapa dimensi.
Pandangan Davis dan Moore yang dikenal sebagai penjelasan fungsionalis menekankan pada fungsi status-status dalam masyarkat yang dinilai meninjang kesinambungan masyarakat. Sejumlah ahli sosiologi lain melihat bahwa stratifikasi timbul karena adanya masyarakat berkembang pembagian kerja yang memungkinkan perbedaan kekayaan, kekuasaan dan prestise. Adanya perbedaan prestise dalam masyarakat tercermin pada perbedaan gaya hidup. Dalam kaitan dengan perbedan atarkelas ini para ahli sosiologi seing berbicara mengenai symbol status.
Kedudukan dalam suatu kelas sosial tertentu mempunyai arti penting bagi seseorang. Perbedaan kelas sosial berkaitan dengan perbedaan fertilitas, harapan hidup bayi pada waktu lahir, kestabilan keluarga, kesehatan mental,perilaku seks, kehidupan beragama. Mode, dan sikap politik.
Dalam sosiologi digunakan beberapa pendekatan untuk mempelajari stratifikasi sosial seperti pendekatan objektif, pendekatan subjektif, dan pendekatan reputational. Ada masyarakat yang berpandangan bahwa apa yang dapat diperoleh seorang anggota masyarakat tergantung pada kemampuannya. Masyarakat lebih menekankan asa yang menyatakan bahwa pemerataan berarti pemerataan pendapat. Untuk mengurangi ketidaksamaan dalam masyarakat pemerintah berbagai negara menerapkan berbagai program. Beberapa masyarakat bukan berusaha mengurangi ketidaksamaan dalam masyarakat dengan jalan membatasi perbedaan antar individu.

4. HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK
Dalam pembahasan mengenai hubungan antarkelompok yang dimaksudkan dengan kelompok mencakup statistical group, societal group, dan associational group. Konsep kelompok di sinsi mencakup semua kelompok yang diklasifikasikan berdasarkan criteria cirri fisik, kebudayaan, ekonomi, dan perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok moralitas dapat dikaji dengan menggunakan dimensi sejarah, dimensi demografi, dimensi sikap, dimensi institusi, dimensi gerakan sosial, dan dimensi tipe utama hubungan antarkelompok. Di samping itu ada yang perlu diperhatikan, yaitu dimensi perilaku dan dimensi kolektif.
Suatu bentuk hubungan yang banyak disoroti ialah hubungan mayoritas-minoritas, dalam definisi Kinloch kelompok mayoritas ditandai adanya kelebihan kekuasaan; konsep mayoritas tidak dikaitkan dengan jumlah anggota kelompok. Ada pula ilmuwan sosial berpendapat bahwa konsep mayoritas didasarkan pada keunggulan jumlah anggota.
Redfield melihat bahwa konsep ras sebagai gejala sosial berlainan dengan konsep ras sebagai gejala biologis. Bagi Berghe ras berarti kelompok etnik diganti dengan istilah golongan etnik. Rasisme didefinisikan sebagai suatu ideology yang didasarkan pada keyakinan bahwa cirri tertentu yang dibawa sejak lahir menandakan bahwa pemilik cirri tersebut lebih rendah sehingga mereka dapat didiskriminasi. Kita menjumpai pula ideology-ideologi lain yang jugaberusaha membenarkan diskriminasi terhadap kelompok lain seperti sitem ageisn. Apabila kita bicara tentang rasialisme kita berbicara mengenai praktik diskriminasi terhadap kelompok ras lain.
Ideologi rasisme yang menganggap bahwa orang Kulit Putih lebih unggul daripada orang kulit berwarna antara lain pernah dianut oleh Amerika Serikat dan hingga kini masih dianut di Republik Afrika Selatan. Menurut v.d.Berghe demokrasi di Amerika Serikat hingga awal Perang Dunia II dan di Afrika Selatan hingga kini merupakan apa yang dinamakanmya “Herrenvolk democracy”.
Menurut Noel stratifikasi etnik terjadi apabila terpenuhi tiga persyaratan yaitu: etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan kekuasaan. Collins berpandangan bahwa satu-satunya faktor yang mengawali dan mendasari stratifikasi jenis kelamin ialah kekuatan fisik, sedangkan Parsons mengaitkan stratifilasi jenis kelamin dengan industrialisasi. Menurut Ransford kekhususan stratifikasi usia terletak pada kenyataan bahwa status dalam jenjang kekuasaan, pertise dan privilese berbentuk kurvilinear.
Banton mengemukakan bahwa kontak antara dua kelompok ras dapat diikuti proses akulturasi, dominasi, paternalisme, pluralisme, atau integrasi. Dalam klasifikasi Liberson dapat dibedakan antara pola dominasi kelompok pendatang aatas kelompok pribumi dan pola dominasi kelompok pribumi atas kelompok pendatang.
Dalam hubungan antarkelompok sering ditampilkan prasangka. Salah satu teori untuk menjelaskan prasangka ialah teori frustasi-agresi. Stereotip erat kaitannya dengan prasangka. Stereotip-stereotip dapat bersifat negatif maupun positif. Bettelheim dan Janowitz membedakan dua macam stereotip negatif yang saling bertentangan: stereotip superego dan stereotip id.
Satu bentuk perilaku yang banyak ditampilkan dalam hubungan antarkelompok ialah diskriminasi. Ransford membedakan antara diskriminasi individu dan diskriminasi institusi. Prasangka bukanlah prasyarat bagi perilaku diskriminasi, dan sebaliknya prasangka yang dianut seseorang oun tidak selalu membuahkan perilaku diskriminatif.
Hubungan antarkelompok sering berwujud perilaku kolektif. Tidak jarang gerakan antarkelompok berkembang menjadi huru-hara yang mengakibatkan perusakan harta benda atau bahkan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Hubungan antarkelompok pun sering melibatkan gerakan sosial, baik yang diprakarsai oleh pihak yang menginginkan perubahan maupun oleh mereka yang ingin mempertahankan keadaan yang ada.

B MASYARAKAT PERKOTAAN
1. Struktur Penduduk Kota
1.1 Segi Demografi
Ekspresi demografi dapat ditemui di kota-kota besar. Kota-kota sebagai pusat perdagangan, pusat pemerintahan dan pusat jasa lainnya menjadi daya tarik bagi penduduk di luar kota. Jenis kelamin dalam hal ini mempunyai arti penting, karena semua kehidupan sosial dipengaruhi oleh proporsi atau perbandingan jenis kelamin. Suatu kenyataan ialah bahwa pada umumnya kota lebih banyak dihuni oleh wanita daripada pria.
Struktur penduduk kota dari segi umur menunjukkan bahwa mereka lebih banyak tergolong dalam umur produktif. Kemungkinan besar adalah bahwa mereka yang berumur lebih dari 65 tahun atau mereka yang sudah pensiun lebih menyukai kehidupan dan suasana yang lebih tenang. Suasana ini terdapat di daerah-daerah pedesaan atau sub urban.

1.2 Segi Ekonomi
Struktur kota dari segi ini dapat dilihat dari jenis-jenis mata pencaharian penduduk atau warga kota. Sudah jelas bahwa jenis mata pencaharian penduduk kota adalah di bidang non agraris seperti pekerjaan-pekerjaan di bidang perdagangan, kepegawaian, pengangkutan dan di bidang jasa serta lain-lainnya. Dengan demikian struktur dari segi jenis-jenis mata pencaharian akan mengikuti fungsi dari suatu kota.
1.3 Segi Segregasi
Segregasi dapat dianalogkan dengan pemisahan yang dapat menimbulkan berbagai kelompok (clusters), sehingga kita sering mendengar adanya: kompleks perumahan pegawai bank, kompleks perumahan tentara, kompleks pertokoan, kompleks pecinan dan seterusnya. Segregasi ini ditimbulkan karena perbedaan suku, perbedaan pekerjaan, perbedaan strata sosial, perbedaan tingkat pendidikan dan masih beberapa sebab-sebab lainnya,
Segregasi menurut mata pencaharian dapat dilihat pada adanya kompleks perumahan pegawai, buruh, industriawan, pedagang dan seterusnya, sedangkan menurut perbedaan strata sosial dapat dilihat adanya kompleks golongan berada. Segregasi ini tidak akan menimbulkan masalah apabila ada saling pengertian, toleransi antara fihak-fihak yang bersangkutan.
Segregasi ini dapat disengaja dan dapat pula tidak di sengaja. Disengaja dalam hubungannya dengan perencanaan kota misalnya kompleks bank, pasar dan sebagainya. Segregasi yang tidak disengaja terjadi tanpa perencanaan, tetapi akibat dari masuknya arus penduduk dari luar yang memanfaatkan ruang kota, baik dengan ijin maupun yang tidak dengan ijin dari pemerintahan kota. Dalam hal seperti ini dapat terjadi slums. Biasanya slums ini merupakan daerah yang tidak teratur dan bangunan-bangunan yang ada tidak memenuhi persyaratan bangunan dan kesehatan.
Adanya segregasi juga dapat disebabkan sewa atau harga tanah yang tidak sama. Daerah-daerah dengan harga tanah yang tinggi akan didiami oleh warga kota yang mampu sedangkan daerah dengan tanah yang murah akan didiami oleh swarga kota yang berpenghasilan sedang atau kecil.
Apabila ada kompleks yang terdiri dari orang-orang yang sesuku bangsa yang mempunyai kesamaan kultur dan status ekonomi, maka kompleks ini atau clusters semacam ini disebut dengan istilah ”natural areas”.


2. Sifat-Sifat Masyarakat Kota
Masyarakat kota adalah masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan/ tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non-agraris. Masyarakt perkotaan memiliki sifat-sifat yang tampak menonjol yaitu:


• Sikap kehidupan
Sikap kehidupan masyarakt kota cenderung pada individuisme/egoisme yaitu masing-masing anggota masyarakat berusaha sendiri-sendiri tanpa terikat oleh anggota masyarakt lainnya, hal mana menggambarkan corak hubungan yang terbatas, dimana setiap individu mempunyai otonomi jiwa atau kemerdekaan untuk melakukan apa yang mereka inginkan.
• Tingkah laku
Tingkah lakunya bergerak maju mempunyai sifat kreatif, radikal dan dinamis. Dari segi budaya masyarakat kota umumnya mempunyai tingkatan budaya yang lebih tinggi, karena kreativitas dan dinamikanya kehidupan kota lebih cepat menerima yang baru atau membuang sesuatu yang lama, lebih cepat mengadakan reaksi, lebih cepat menerima mode-mode dan kebiasaan-kebiasaan baru. Kedok peradaban yang diperolehnya ini dapat memberikan sesuatu perasaan harga diri yang lebih tinggi, jauh berbeda dengan seni budaya dalam masyarakat desa yang bersifat statis. Derajat kehidupan masyarakt kota beragam dengan corak sendiri-sendiri
• Perwatakan
Perwatakannya cenderung pada sifat materialistis. Akibat dari sikap hidup yang egoism dan pandangan hidup yang radikal dan dinamis menyebabkan masyarakat kota lemah dalam segi religi, yang mana menimbulkan efek-efek negative yang berbentuk tindakan amoral, indisipliner, kurang memperhatikan tanggungjawab sosial.
Berdasarkan paparan diatas maka masyarakat kota memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Terdapat spesialisasi dari variasi pekerjaan.
• Penduduknya padat dan bersifat heterogen.
• Norma-norma yang berlaku tidak terlalu mengikat.
• Kurangnya kontrol sosial dari masyarakat karena sifat gotong royong mulai menurun.
Kita dapat membedakan antara masyarakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan "berlawanan" pula. Perbedaan ini dapat dilhat dari unsure-unsur pembeda yang telah ada, Yaitu:




Tabel perbedaan kwalitatif antara masyarakat urban dan rural
No Unsur pembedaan Desa Kota
1 Mata pencaharian Agraris-homogen Non agraris-heterogen
2 Ruang kerja Lapangan terbuka Ruang tertutup
3 Musim/cuaca Penting dan menentukan Tidak penting
4 Keahlian Umum dan tersebar Ada spesialisasi
5 Rumah dan tempat kerja Dekat Berjauhan
6 Kepadatan penduduk Tidak padat Padat
7 Kontak sosial Frekwensi kecil Frekwensi besar
8 Stratifikasi sosial Sederhana dan sedikit Hukum/peraturan tertulis
9 Lembaga-lembaga Terbatas dan sederhana Hukum/peraturan tertulis
10 Kontrol sosial Adat/tradisi Hukum/peraturan tertulis
11 Sifat masyrakat Gotong royong akrab Gesellschaft
12 Mobilitas Rendah Tinggi
13 Status sosial Stabil Tidak stabil
















BAB III
METODE

Metode pendekatan yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah memperhatikan tahapan penelitian, yang saling berkaitan secara erat, sebelum melakukan penelitian maka tindakan yang dilakukan adalah kajian bahan pustaka sehinngga peneliti bisa lebih memahami tujuan penelitian dan gambaran mengenai data dan keterkaitan anta masing-masing instrumen. Dalam karya ilmiah ini digunakan dua teknik yaitu metode survei dan metode non survei. Metode survei menggunakan teknik wawancara terbuka dan observasi. Sedangkan metode nonsurvai seperti metode analisa isi, kajian data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain.
Dalam penelitian survai hal-hal yang diteliti dituangkan dalam suatu daftar pertanyaan. Teknik survai mengandung persamaan dengan sensus; namun pada sensus yang menjadi subyek wawancara adalah seluruh populasi sedangkan dalam teknik survai daftar pertanyaan diajukan pada sejumlah subyek penelitian yang dianggap mewakili populasi. Pada subyek penelitian survai merupakan contoh suatu populasi. Contoh dipilih secara acak atau dengan teknik penarikan sontoh lain.
Pengamatan merupakan metode penelitian di mana peneliti mengamat secara lansung perilaku para subyek penelitiannya dan merekam perilaku yang wajar, asli, tidak dibuat-buat, spontan dalam kurun waktu relative lama sehingga terkumpul data yang bersifat mendalam dan rinci. Dalam sosiologi dibedakan antara penelitian di mana pengamat (1) sepenuhnya terlibat, (2) berperan sebagai pengamat, (3) berperan sebagai peserta, (4) sepenuhnya melakukan pengamatan tanpa keterlibatan apapun dengan subyek penelitian. Salah satu kelebihan pengamatan terlibat bila dibandingkan dengan survai ialah bahwa pengamatan terlibat lebih memungkinkan terjalinnya rapport antara peneliti dengan subyek penelitiannya.
Obyek penelitian dalam karya ilmiah ini adalah masyarakat yang berada di Malang Town Square, perumahan elit ijen dan masyarakat di pasar jombang. Dan penentuan sampel responden dilakukan secara purposive sampling sesuai dengan tujuan karaya ilmiah.




BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. LAPORAN KEGIATAN DI MATOS
Lokasi : Malang Town Square (MATOS)
Hari/tanggal : Kamis/ 05 maret 2009
Pukul : 15.30 – 16.30 wib
Titik pengamatan :1. Hypermart
2. Matahari
3. Matos 21
4. Ruang Terbuka di Lantai 2
5. Tempat Bermain Anak
Hasil pengamatan :
1. Hypermart
Situasi yang ada di ditempat ini sedikit sepi hal ini dikarenakan hari pengamatan yaitu hari kamis merupakan hari efektif kerja. Individu yang ada di daerah hypermart ini merupakan individu bersama-sama membentuk kelompok-kelompok kecil. Misalnya pasangan pria dan wanita, ibu dan anak, sesama wanita,dll.
Interaksi yang terjadi di daerah matos ini adalah lebih ke melayani diri sendiri. Jadi, para pengunjung mencari sendiri barang-barang yangmereka butuhkan. Jadi kontak social antar individu sangat terbatas. Sangat individual.
Mereka akan melakukan interaksi sosial denagn orang lain sesuai denagn tujuan mereka masing-masing. Misalnya interaksi antara pengunjung dengan pelayan akan terjadi sangat terbatas hanya sebatas pemenuhan pencarian kebutuhan yang merek inginkan. Sehingga untuk terjadinya kontak sosial dengan pengunjung lain atau dengan konsumer lain akan sangat jarang terjadi apalagi jika tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Maka interaksi tersebut tidak akan terjadi. Yang ada hanya kita bertemu/ terjadi interaksi mikro yaitu bahwa dalam suatu ruangan di hypermart tersebut terjadi pemaknaan kondisi/suasana yang berbeda pada setiap orang. Tetapi untuk terjadinya interaksi sosial sangat terbatas.
2. Matahari
Situasi di matahari ini cukup lengang. Hal ini dikarenakan jam 4 merupakan jam pulang kantor. Kebanyakan yang berada di ruangan ini adalah kaum remaja dan dewasa. Hal ini dikarenakan pada usia remaja dan dewasa keinginan akan berbelanja sangat tinggi. Dan selain itu kebanyakan yang berada di daerah ini adalah kaum wanita. Interaksi sosial yang terjadi ditempat ini adalah pengunjung dapat memilih barang yang mereka sukai sendiri tetapi untuk minta perubahan ukuran tetap melaukukan interaksi dengan para pelayan yang ada di sana. Jadi para pelayannya hanya tinggal berdiri sambil menunggu para pengunjung yang membutuhkan bantuan mereka. Jadi, pengunjunglah yang harus aktif mendatangi para pelayan untuk minta dicarikan apa yang mereka butuhkan.
Dan juga untuk pembayarannya ada tempat sendiri, biasanya di lokasi kasir/ tempat pmebayaran para pelayan toko dulu yang memulai melakukan interaksi sosial dengan menyapa para pengunjung. Dan mulai mencari bahan-bahan obrolan yang dapat mengurangi kecanggungan diantara mereka dan untuk memperlancar transaksi pembayaran.
3. Matos 21
Interaksi sosial yang terjadi di lokasi ini sangat terbatas, terjadi hanya pada saat membeli tiket, ketika akan masuk ke pintu bioskop. Selain itu terjadinya interaksi hanya dengan orang-orang yang mereka kenal saja. Dan kebanyalan yang ada di lokasi matos 21 ini adalah pasangan remaja putra-putri. Hal ini dapat dikarenakan film yang diputar di bioskop ini adalah film remaja dan horor. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa sasaran pengujung matos 21 adalah para kaum muda dan dewasa.
4. Ruang Terbuka Di Lantai 2
Lokasi di ruang terbuka di lantai 2 ini sangat sepi. Dan tidak ada interaksi sosial yang terjadi, tidak ada event dan tidak ada promo. Hal ini membuat ruangan di matos semakin lebar. Yang ada hanyalah orang yang berlalu-lalang tanpa terjadi interaksi sosial baru di antara individi-individu yang baru mengenal.
5. Tempat Bermain Anak
Lokasi ini diperuntukkan bagi anak-anak dengan berbagai sarana permainan yang beraneka ragam. Tetapi hal yang teramati adalah bahwa di tempat ini tidak ada interaksi sosial yang terjadi. Anak-anak bermain sendiri dengan alat permainan yang tersedia. Sehingga untuk proses poembelajarannya kurang baik dan tidak optimal. Hal ini dikarenakan anak-anak masih sangat membutuhkan bimbingan dalam bermain sehingga dalam permainan tersebut anak dapat mengalami proses pembelajaran dan mengenal hal-hal baru yang bermanfaat.
2. LAPORAN WAWANCARA SOSIOLOGI
Lokasi : Malang Town Square
Waktu : 10-21 maret 2009
Responden : 11 orang
Hasil wawancara :
No Hari, jam Usia (th) Asal Pekerjaan Stratifikasi
masyarakat kategori organisasi Tujuan ke matos Keterangan lain
1. Jumat, 17.25 8 malang Siswa SD Golongan Menengah atas individu Siswa SD petra Bermain dan ikut mama berbelanja Menggunakan transportasi mobil pribadi
2. Jumat, 18.45 20-21 madiun, bojonegoro, tulungagung Mahasiswa UB Golongan sedang kelompok Himpunan Jurusan hortikultura Nonton film, shopping dan makan-makan karena ada traktiran ultah Sepeda motor
3. sabtu, 18.35 22-23 palembang, malang, gresik, lampung Mahasiswa ITN Golongan menengah atas kelompok Himpunan Jurusan teknik sipil, ekonomi. Jalan-jalan, nonton film, makan-makan utk refreshing Menggunakan mobil
4. Sabtu, 19.05 36, 10, 38, 17, 57 malang Pegawai swasta Golongan sedang kelompok perusahaan vulbary Jalan-jalan bersama keluarga mengahbiskan akhir pecan, shopping dan belanja kebutuhan dapur selama 1 minggu Menggunakan mobil avanca
5. Sabtu, 19. 50 13 th, 19 malang (mt haryono) Siswa SMP dan menganggur Golongan biasa kelompok SMP 4 malang Mengantarkan adek untuk membeli barang kebutuhan sekolahnya Jalan kaki
6. Sabtu, 20. 15 22 lumajang Mahasiswa UM Golongan sedang individu Himpunan psikologi Jalan-jalan Sepeda motor
7. Sabtu, 20.30 21-23 sumenep Mahasiswa UM dan UB Golongan biasa. Kelompok 2 0rang Himpunan mahasiswa geogafi dan mahsiswa statistk Nonton film Selalu berdua, laki-laki dan perempuan.
8. Rabu, 15.15 10 th malang Siswa SD Golongan menengah ke atas individu SDK santa maria Bermain di time zone Menggunakan mobil
9. Rabu, 16. 10 47 th malang Guru Golongan sedang individu Guru sma tlogomas Berbelanja kebutuhan rumah tangga Menggunakan angkot
10. Rabu, 17. 00 27 kepanjen Pegawai swasta Golongan biasa individu Himpunan perusahaan property perumahan Sepulang kerja, melepas lelah. Menggunakan sepeda motor

3. LAPORAN OBSERVASI DI PERUMAHAN ELIT IJEN DAN PASAR JOMBANG
Lokasi : Perumahan Elit Ijen dan Pasar Jombang
Hari/tanggal : Mulai tanggal 11 April - 11 Mei 2009
Titik pengamatan :1. Jalan Ijen Dari Dekat Gereja Hingga Lampu Merah (Sepanjang Jalan Ijen)
2. Pasar Jombang Di Jalan Jombang
Hasil pengamatan :
a. Hasil pengamatan di Perumahan Elit Ijen
• Sabtu, 11 April 2009 jam 15.46 - 16.30
Hasil observasi:
Pada saat tiba di kawasan perumahan elit ijen, terlihat beberapa wanita sekitar usia 19 tahun sedang memegang kemucing dan kain pel. Dan wanita tersebut terlihat akan membersihkan kaca rumah yang ditempatinya. Dan di sebelahnya terlihat ada sebuah mobil Avanza berwarna silver yang tampak mengkilap di terpa sinar matahari. Dan saya menyakini bahwa wanita yang berada di luar rumah tersebut bukanlah pemilik rumah tersebut tetapi pembantu yang bertugas untuk mengurus rumah tersebut. Hal ini diperkuat dari cara wanita tersebut berpakaian.
Setelah kami mengamatinya hingga pukul 16.25 tidak ada pemiliki rumah lain yang keluar rumah. Dan wanita tersebut kemudian pergi kedalam rumah tersebut. Dan keadaan luar rumah telah bersih. Halaman telah basah, tidak ada sampah berserakan dan kaca jendela telah mengkilap. Dan kami menyusuri trotoar dari rumah yang letaknya di sebelah selatan museum brawijaya menuju ke arah selatan hingga lampu merah. Dan di sepanjang jalan kami mengamati bahwa rumah yang terletak di kawasan ini sangat mewah,bagus dan sepi. Itulah kesan yang kami dapatkan dari observasi pertama kami.
• Minggu, 19 April 2009 jam 08.35 - 09.10 dan jam 15.40 - 16.05
Hasil pengamatan:
Pada saat hari minggu, jam delapan kami sudah berkumpul di depan museum brawijaya. Dari museum tersebut terlihat lagi pemandangan seorang wanita muda yang sedang membersihkan halaman rumahnya dan pemilik runah juga tidak muncul ke luar rumah.
Kemudian pada jam 09.10 saya dan rekan-rekan yang lain bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut. Dan tak lama berselang dari tempat kami berda ada ada 3 orang laki-laki yang membawa sepeda motor dan mereka berhenti di depan rumah yang berpagar coklat, yang bertingkat dan sangat mewah tapi saya tidak mengamati aktivitas tersebut lebih jauh lagi karena kami memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.
• Jumat, 01 mei 2009 jam 19.00 - 19.20
Hasil observasi:
Kegiatan di perumahan elit ijen sangat lenggang, sepi dan kendaraan lalu lintas sangat ramai. Akan tetapi ada sedikit pemandangan yang berbeda, yaitu ada dekorasi panggung di tengah jalan atau tepatnya di sebelah barat perpustakaan kota malang. Setelah diamati dua orang laki-laki sedang mempersiapkan panggung hiburan. Dan ternyata setelah kami amati lebih dekat lagi maka dapat terlihat bahwa panggung tersebut adalah untuk merayakan hari jadi kota malang yang akan dimeriahkan oleh Peterpan dan Project Pop. Setelah cukup kami pun meninggalkan kawasan perumahan elit ijen tersebut dengan senyuman bahwa besok malam tepatnya tanggal 02 Mei 2009 akan ada pertunjukkan peterpan di malang.
• Sabtu, 02 Mei 2009 jam 19.00 - 23.45
Hasil pengamatan:
Pada saat kami mengadakan pengamatan di perumahan elit ijen kami menyaksikan beribu-ribu orang datang dari berbagai tujuan dan arah untuk melihat perayaan hari jadi kota malang yang lokainya di sepanjang jalan ijen. Taman bunga di tengah jalan telah dipagari untuk menghindari orang-orang yang akan datang agar tidak merusak tanaman di taman tengah jalan ijn.
Halaman depan rumah di pinggir jalan dijadikan sebagai tempat parkir kendaraan roda dua. Dan jumlahnya sangat banyak. Panggung hiburan yang menghadap ke arah timur dipadati oleh masyarakat kota malang yang telah datang dari pukul 6 sore. Acara tersebut sangat meriah karena dimeriahkan oleh project pop yang menyanyi di awal acara kemudian disusul oleh tampilan peterpan dengan membawakan 15 buah lagu. Yang disambut oleh antusiasme penonton. Acara malam tersebut sanagt ramai sehingga membuat aktivitas di perumahan elit ijen sanagt ramai, dengan suara keras dan seperti lautan manusia. Suatu pemandangan yang cukup berbeda dengan hari - hari sebelumnya dimana kawasan perumahan elit ijen ini terlihat sunyi dan seperti tanpa penghuni. Dan perbedaan lainnya adalah dinyalakan kembang api yang sangat indah dan menyenangkan masyarakat Kota Malang.
• Selasa, 05 Mei 2009 jam 08.00 - 13.30
Hasil observasi:
Observasi yang dilakukan pada hari ini cukup lama hal ini dikarenakan kami ingin lebih mengamati aktivitas individu di perumahan elit ijen ini.
Rumah yang berada di jalan ijen ini mempunyai nomor rumah 55 dengan ciri-ciri bangunan lama, di sebelah barat terdapat mobil avanza biru yang didalamnya terdapat bapak / Ibu/ Anak kecil dengan wajah mirip keturunan china. Di depan pagar terdapat kotak surat dan catnya krem dengan aneka bunga di dalamnya. Dan selanjutnya nomor rumah dengan nomor 51 bangunan lama, memiliki banyak pohon, seperti: nangka, palm, jambu, mangga. Depan pagar ada kotak surat, pagar tertutup rapat dan ada sebuah mobil honda jazz di garasi dengan pintu garasi yang dibiarkan tetep terbuka. Dan tidak ada orang muncul dari dalam rumah tersebut. Dan rumah dengan nomor 47 terdapat lombok merah besar di depan pintu, tempat parkir di sebleha utara rumah, halaman luas, terdapat banyak bunga, pagar rendah.
Rumah no. 45 bangunan besar, di sebelah selatan terdapat pos satpam, halaman luas dan bnagunannya juga luas, memiliki banyak pohon, rumah menghadap pada jalan samping bukan jalan utama. Dan terlihat tidak ada orang di rumah tersebut. Rumah dengan nomor 42 di sebelah timur jalan, di depan ada pohon mangga, rumah bertingkat memiliki banyak pohon, pagar bagus dan tinggi, cat hitam krem bermotif kelabu, kemudian ada seorang wanita dengan kulit coklat tua sedang membersihkan rumah tersebut. Dan aktivitas yang terjadi hanya aktivitas individu atau interaksi mikro.
b. Hasil Pengamatan di Pasar Jombang
• Selasa, 05 mei 2009
Hasil observasi:
Pengunjung di pasar jombang cukup banyak, barang-barang yang diperjualbelikan seperti ikan laut, sayuran, buah, tempe, daging ayam, makanan kuliner, nasi, kain-kain dan lain-lain. Pembeli di pasar jombang ini adalah ibu-ibu, pada pukul 06.30 keadaan pasar paling ramai dan pasar jombang ini akan tutup pukul 10.00. pada pengamatan dapat terlihat bahwa pasar jombang ini berlokasi di depan pekarangan rumah penduduk dan barang dagangan yang dibeli kebanykan adalah barang kebutuhan poko/ lauk-pauk jadi penjual yang menjual sayuran dan kebutuhan lainnya cukup ramai. Dan kebanyakan antara penjual dan pembeli sudah saling mengenal. Jadi proses interaksi yang terjadi cukup intensif dan bermakna karena antar individu sudah saling memgenal.















BAB V
PEMBAHASAN

1. PEMBAHASAN HASIL OBSERVASI DAN WAWANCARA DI MATOS
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Dimana Obyek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Dalam mempelajari masyarakat hal yang ditekankan adalah struktur masyarakat, proses social, dan perubahan social. Struktur Sosial yang merupakan keseluruhan jalinan antara unsur unsur sosial yang pokok yaitu kaidah kaidah sosial, lembaga lembaga sosial, kelompok sosial serta lapisan social. Proses social Pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Perubahan Sosial adalah Sebagai suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi atau penemuan2 baru dalam masyarakat.
Hal tersebut diatas sangat berpengaruh dilihat dari faktor keruangan desa dan kota. Kota merupakan sebuah bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.
Salah satu fenomena yang dapat diamati di daerah perkotaan mengenai masyarakat adalah di pusat perbelanjaan salah satunya pusat perbelanjaan yang ada di kota malang yang dikenal dengan nama Malang Town Square (MATOS). dalam wawancara yang telah dilakukan selam 2 minggu maka peneliti mencoba untuk mengadakan interaksi social dengan pengunjung yang ada di pusat perbelanjaan ini. interaksi sebagai langkah awal untuk terjadinya proses social akan terjadi melalui komunikasi verbal. Dalam kajian teori mengenai pola interaksi terdapat 3 pola interaksi yaitu mikro sosiologi yang merupakan suatu interaksi yang terjadi dalam individu itu sendiri, dimana pemaknaan individu terhadap obyek yang sama akan berbeda dalam pemahaman di balik suatu fenomena atau benda.contohnya sejumlah pengunjung di lingkungan matahari akan berbeda pemaknaannya terhadap kondisi di matahari tergantung pemaknaan dan pemahaman individu tersebut. Sedangkan interaksi meso yaitu individu dengan group seperti peneliti yang mengadakan wawancara dengan sekelompok orang yang sedang berkumpul di MATOS 21. Fenomena ini adalah bagian interaksi meso, dan makro sosiologi yang merupakan interaksi antara group dengan group seperti sekelompok pengunjung yang sedang diwawancarai oleh peneliti kemudian bertemu dengan kelompok lain dan saling bertegur sapa dan berbincang sebentar. Dalam kondisi seperti ini peneliti berada / masuk dalam kelompok.
Berdasarkan hasil, wawancara yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa masyarakat kota yang berada dalam pusat perbelanjaan memiliki karakteristik yang individualistis. Pada masyarakat yang berkunjung ke matos sendiri atau individual maka mereka lebih cenderung menghabiskan waktunya lebih lama dan tanpa terbebani oleh kelompoknya. Dan mereka yang melakukan perjalanan seorang diri cenderung tujuannya adalah untuk jalan-jalan, menghabiskan waktu dan bersengan-senang. Tanpa ada yang mengikutinya. Sedangkan bagi kelompok karakter yang dimiliki kelompok adalah sangat kaku dala artian jika mereka berangkat ke pusat perbenjaan dengan orang-orang yang ada dalam keompok tersebut maka dalam pulangnya nanti bersama kelompok itu lagi. Pada prinsip para pengunjung ada di dalam MATOS mereka membentuk suatu masyarakat MATOS. Hal ini dapat dilihat pada pengertian masyarakat yang disajikan di bawah ini:
1. Maclver dan Page Masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dan pengawasan
laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial. San masyarakat selalu berubah
2. Ralph Linton Masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batasbatas yang dirumuskan dengan jelas
3. Selo Soemardjan Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan
Dari definisi-definisi di atas, unsur-unsur masyarakat sebagai berikut :
a. Manusia yang hidup bersama. Di dalam Ilmu Sosial tidak ada ukuran mutlak ataupun angka pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi secara teoretis angka minimnya adalah dua orang yang hidup bersama.
b. Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan dari manusia tidaklah sama dengan kumpulan benda-benda mati seperti umpamanya kursi, meja dan sebagainya. Oleh karena dengan berkumpulnya manusia akan timbil manusia-manusia baru. Manusia itu juga dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti; mereka juga mempunyai keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau perasaan-perasaannya. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbulah system komunikasi dan timbulah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dalam kelompok tersebut.
c. Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan
d. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan lainnya.
Keramaian yang dapat dijumpai di dalam kota tergantung pada beberapa faktor antara lain: 1.Kemampuan daya tarik bangunan dan gedung-gedung yang berfungsi sebagai penjual atau penyalur barang kebutuhan sehari-hari, sebagai media hiburan, pusat dagang bahan pangan; 2.Tingkat kemakmuran atau standar hidup dari warga kota yang mepunyai daya beli yang cukup besar; 3.Tingkat pendidikan dan kebudayaan yang cukup baik; 4.Sarana yang terdapat dalam kota seperti: transportasi, beserta jaringan jalur jalan dan jaringan komonikasi dengan asebilitas yang tinggi;5.Para pengasuh dan warga kota yang cukup dinamis. Gejala-gejala yang kelihatan di kota yang dikenal dengan sebutan ngebutisme. Gejala ngebutisme ini merupakan lawan dari disiplin masyrakat dalam kelalu lintasan.
Disiplin masyarakat merupakan suatu sikap atau perbuatan masyrakat yang mematuhi suatu peraturan atau tata tertib yang sudah diakui dan disahkan oleh pemerintah pusat atau setempat sebagai peraturan umum yang berlaku dan harus ditaati. Meskipun demikian disiplin masyarakat ini kadang-kadang dilupakan, inilah yang menimbulkan masalah dalam lalu lintas.Lalu lintas adalah suatu keadaan yang menggambarkan hilir mudiknya manusia atau dan barang dalam jarak tertentu antara dua daerah atau lebih yang saling mebutuhkan. Jadi selama masih ada manusia barang, jalur jalan dan kebutuhan antara dua tempat atau lebih, maka selama itu lalu lintas tidak akan berhenti.
Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat kota baik yang individu maupun kelompok cenderung untuk melayani kebutuhan dirinya sendiri, praktis, cepat dan tidak membutuhkan banyak waktu. Dan yang terpenting yaitu bahwa dalam masayrakat perkotaan mobilitasnya sangat tinggi. Dimana dapat dilihat dalam salah satu responden yang selalau berkutat dengan telepon genggam yang lebih dari satu buah. Hal ini memperlihatkan suatu gambaran masayarakt perkotaan yang sanagt kompleks, mobilitas tinggi, cenderung cuek dan yang terakhir adalah bahwa masyarakat di MATOS ini sangat individuals dan yang banyak berkunjung di daerah matos ini adalah para anak muda dengan usia 21-24. Yang sebagian besar tujuannya adalah untuk menikmati suasana disana untuk bersenang-senang. Benar-benar suatu tempat yang penuh dengan fenomena masyarakat yang sangat kompleks, glamour dan membutuhkan materi yang cukup banyak.
2. PEMBAHASAN DARI HASIL OBSERVASI DI PERUMAHAN ELIT IJEN DAN PASAR JOMBANG
Individu yang berada di perumahan elit ijen adalah masyarakat yang individuisme/ egoisme. Dan hal ini adalah salah satu ciri dari masyarakat kota. Masyarakat kota adalah masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan/ tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non-agraris. Dan pada studi kasus di perumahan elit ijen ini dapat terlihat lapisan individu/ masyarakat yang berada di perumahan elit ijen ini terutama dilait dari bentuk rumah, lingkungan sekitarnya dan sarana prasarana yang terdapat di rumah tersebut mulai dari bentuk pagar, kotak surat, mobil dll. selain itu lapisan masyarakat di daearah ini dilihat dari segi taman yang dimiliki ooleh masing-masing rumah. Suatu syarat perlapisan sosial yang sangat tinggi dan membutuhkan biaya yang cukup mahal.
Hal ini memperlihatkan bahwa perwatakan dan tingkah laku masyarakt di perumhan elit ijen ini sangat kreatif, radikal, dinamis dan cenderung pada sifat materialistis. Hal ini dikarenakan sikap hidup yang sangat individuisme/ egoisme yang kurang peka terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka, waktu yang dibutuhkan diluar rumah jauh lebih banyak daripada menghabiskan waktu di dalam rumah sehingga untuk mengenal tetangga di sekitar mereka tinggal tidak ada kesempatan. Masing-masing individu di perumahan elit ijen ini memiliki pandangan yang radikal dan dinamis sehingga menyebabkan masyarakat kota lemah dalam segi religi.
Dilihat dari bentuk rumah yang ada di perumahan elit ijen terlihat bahwa masayarakt kota pada umumnya mempunyai taraf hidup yang lebih tinggi daripada masayarakat desa. Hal ini lebih banyak menuntut lebih banyak biaya hidup sebagai alat pemuas kebutuhan tidak terbatas yang mana menyebabkan orang berlomba-lomba mencari usaha/kesibukan, mencari nafkah demi kelangsungan hidup pribadi/ keluarganya.
Akibatnya timbullah sikap pembatasan diri di dalam pergaulan masyarakat dan terpupuklah paham memntingkan diri sendiri yang akhirnya timbullah sikap individualisme/ egoisme. Sikap hidup yang demikian daripada anggota masyarakat ini mewujudkan hubungan di dalam pergaulan yang hanya berdasarkan kepentingan-kepentingan pribadi dimana segala sesuatunya terjalin hanya berdasrkan adanya pamrih untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri.
Benar sekali sinyalemen Dominggus A. Mampioper bahwa dalam masyarakat tradisional budaya malu sangat kuat. Budaya malu ini juga sangat kuat dalam budaya masyarakat Timur. Sering kita mendengar bahwa orang Timur sangat menjaga nama baik keluarga dan masyarakat. Hal itu suka dibanding-bandingkan secara “apple to apple” dengan masyarakat Barat. Hal itu dikatakan seakan-akan masyarakat Barat tidak terlalu menjaga nama baik keluarga atau masyarakat. Tentu saja pandangan seperti itu dapat sangat menyesatkan.
Bila kita berbicara tentang budaya gotong-royong, saya dapat saja setuju bahwa hal itu bukan merupakan ciri budaya Barat. Sebaliknya budaya gotong-royong sangat kuat pada budaya Timur. Namun, akhirnya saya sendiri meninggalkan paradigma pikiran seperti itu. Ternyata budaya gotong-royong lebih berkorelasi dengan tingkat independensi manusia dalam suatu masyarakat tertentu. Semakin manusia menjadi independen maka akan semakin ia terlepas dari budaya gotong-royong. Karena itulah budaya gotong-royong masih tetap kental pada masyarakat desa namun semakin luntur, bahkan nyaris lenyap pada masyarakat kota. Anggota masyarakat urban terpaksa harus berjuang sendiri untuk survive secara lebih keras di perkotaan. Akibatnya, mereka “tidak punya waktu” tersisa untuk berbasa-basi dengan para tetangga mereka. Semua sibuk mencari nafkah sampai larut malam dan tidak tersisa banyak waktu untuk bersosialisasi. Mereka juga tidak terlalu mau tahu urusan tetangga yang asing bagi mereka dan sebaliknya para tetangga juga tidak mau mencampuri urusan mereka. Lain di desa, mereka saling mengenal satu sama lain.
Di kota manusia terpaksa dan dipaksa menjadi semakin individualistik. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa semakin anggota masyarakat menjadi semakin mandiri, maka ia juga akan menjadi sifat individualistik. Dengan memiliki uang maka manusia semakin mempunyai KUASA untuk mencukupi kebutuhan dan keinginannya sendiri. Bila jatuh sakit ia bisa ke dokter atau Rumah Sakit. Untuk melahirkan ia dapat langsung ke Rumah Sakit Bersalin. Ia tidak lagi memerlukan jasa nenek dukun beranak yang membantu melahirkan baik ibunya, saudaranya maupun dirinya. Bila ia perlu membangun rumah ia dapat memakai jasa pemborong kecil atau besar. Ia tidak memerlukan tenaga sesama warga sekampung untuk bergotong royong membangun rumahnya. Bila ada hajatan maka ia dapat memakai jasa Event Organizer. Ia tidak memerlukan ibu-ibu RT untuk masak-memasak karena ia bisa menunjuk Catering yang dirasakannya paling cocok dengan seleranya.
Sifat individualistik itu bukan pertama-tama merupakan sifat suatu masyarakat melainkan sifat individual yang erat berhubungan dengan nilai individual akibat perkembangan independensi keuangannya. Coba saja kalau orang kaya itu tiba-tiba jatuh miskin kembali, maka ia juga menjadi semakin tergantung kembali kepada sesamanya.
Dan jika kembali dilihat dari latar pendidikan, mayoritas masyarakat kota atau sekitarnya yang telah bercampur dengan karakter dan budaya barat seharusnya bisa lebih berakhlak baik disbanding mereka di desa yang tidak lebih banyak mengerti dengan yang disebut dengan “akhlakul kharimah” karena tidak banyak mendapat kesempatan dalam pendidikannya. Tetapi dengan semakin tingginya tuntutan terhadap kebutuhan hidup mereka yang sangat glamour maka pendidikan yang tinggi belum tentu menjadikan masyarakat kota memiliki akhlak dan kesopanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat desa dengan latar belakang pendidikan yang lebih rendah dengan penduduk kota.
Aktivitas/ interaksi yang terlihat di pasar jombang ini taraf kehidupannya rendah tetapi pada umumnya kelihatan juga sedikit banyak penghargaan dan perhatian terhadap pergaulan hidup. Adat sopan-santun masih terlihat yang sanagt mirip dengan ciri masyarakat pinggiran kota/ masyarakat desa. Karena pada saat interaksi antara penjual makanan kuliner/ makann pasar dengan gadis muda berusia sekitar 20-an, gadis muda ini terlihat sangat sopan dan mengerti benar bagaimana caranya bertutur kata dengan orang yang lebih tua dengan bahasa jawa sebagai bahasa keseharian masyarakat di Kota Malang ini.
Jadi masyarakat di pasar jombang ini pada hakekatnya mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap segi paedagogis daripada saling mempengaruhi dan saling mempererat hubungan untuk menuju kesejahteraan dan kemajuan dalam masalah apa saja pokok untuk mempengaruhi dalam pendidikan sebagai pokok untuk memupuk perasaan sosial dan kecakapan untuk menyesauikan diri dalam masyarakat. Dan mereka lebih melihat seseorang dari tingkah laku yang diberikan oleh orang tersebut bukan pada apa yang mereka miliki dan kesopanan tetap merupakan hal yang menempati posisi teratas.







BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manusia menjalani kehidupan didunia ini tidaklah bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri dalam artian butuh bantuan dan pertolongan orang lain , maka dari itu manusia disebut makhluk sosial. Oleh karena itu kehidupan bermasyarakat hendaklah menjadi sebuah pendorong atau sumber kekuatan untuk mencapai cita-cita kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan didesa maupun diperkotaan. Tentunya itulah harapan kita bersama, tetapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang ini, jauh sekali dari harapan dan tujuan pembangunan Nasional negara ini, kesenjangan Sosial, yang kaya makin Kaya dan yang Miskin tambah melarat , mutu pendidikan yang masih rendah, orang mudah sekali membunuh saudaranya (dekadensi moral ) hanya karena hal sepele saja, dan masih banyak lagi fenomena kehidupan tersebut diatas yang kita rasakan bersama, mungkin juga fenomena itu ada pada lingkungan dimana kita tinggal.
Sehubungan dengan itu, barangkali kita berprasangka atau mengira fenomena-fenomena yang terjadi diatas hanya terjadi dikota saja, ternyata problem yang tidak jauh beda ada didesa, yang kita sangka adalah tempat yang aman, tenang dan berakhlak (manusiawi), ternyata telah tersusupi oleh kehidupan kota yang serba boleh dan bebas itu disatu pihak masalah urbanisasi menjadi masalah serius bagi kota dan desa, karena masyarakat desa yang berurbanisasi ke kota menjadi masyarakat marjinal dan bagi desa pengaruh urbanisasi menjadikan sumber daya manusia yang produktif di desa menjadi berkurang yang membuat sebuah desa tak maju bahkan cenderung tertinggal.
Individu yang berada di perumahan elit ijen adalah masyarakat yang individuisme/ egoisme. Dan hal ini adalah salah satu ciri dari masyarakat kota. Masyarakat kota adalah masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan/ tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non-agraris. Dan pada studi kasus di perumahan elit ijen ini dapat terlihat lapisan individu/ masyarakat yang berada di perumahan elit ijen ini terutama dilait dari bentuk rumah, lingkungan sekitarnya dan sarana prasarana yang terdapat di rumah tersebut mulai dari bentuk pagar, kotak surat, mobil dll. selain itu lapisan masyarakat di daearah ini dilihat dari segi taman yang dimiliki ooleh masing-masing rumah. Suatu syarat perlapisan sosial yang sangat tinggi dan membutuhkan biaya yang cukup mahal.
Hal ini memperlihatkan bahwa perwatakan dan tingkah laku masyarakt di perumhan elit ijen ini sangat kreatif, radikal, dinamis dan cenderung pada sifat materialistis. Hal ini dikarenakan sikap hidup yang sangat individuisme/ egoisme yan kurang peka terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka, waktu yang dibutuhkan diluar rumah jauh lebih banyak daripada menghabiskan waktu di dalam rumah sehingga untuk mengenal tetangga di sekitar mereka tinggal tidak ada kesempatan. Masing-masing individu di perumahan elit ijen ini memiliki pandangan yang radikal dan dinamis sehingga menyebabkan masyarakat kota lemah dalam segi religi.

B. Saran
Pembangunan Wilayah perkotaan seharusnya berbanding lurus dengan pengembangan wilayah desa yang berpengaruh besar terhadap pembangunan kota. Masalah yang terjadi di kota tidak terlepas karena adanya problem masalah yang terjadi di desa, kurangnya sumber daya manusia yang produktif akibat urbanisasi menjadi masalah yang pokok untuk diselesaikan dan paradigma yang sempit bahwa dengan mengadu nasib dikota maka kehidupan menjadi bahagia dan sejahtera menjadi masalah serius. Problem itu tidak akan menjadi masalah serius apabila pemerintah lebih fokus terhadap perkembangan dan pembangunan desa tertinggal dengan membuka lapangan pekerjaan dipedesaan sekaligus mengalirnya investasi dari kota dan juga menerapkan desentralisasi otonomi daerah yang memberikan keleluasaan kepada seluruh daerah untuk mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, sehingga kota dan desa saling mendukung dalam segala aspek kehidupan.








DAFTAR PUSTAKA

Gumilar, Gumgum.______. Sosiologi. Program Studi Ilmu Komunikasi Unikom.

Kusnadi, Nuraini. ________. Sosiologi Desa Kota.Online di akses di http//www.nur07.wordpress.com/sosiologidesakota// pada tanggal 3 mei 2009

Mansyur, M.Cholil. 2005. Sosiologi Masyarakat Kota Dan Desa. Surabaya: Usana Offset
Rudianto. 2009. Masyarakat desa dan masyarakat kota. Online diakses di
http://mbahrudisblog.blogspot.com/2009/01/masyarakat-desa-dan-masyarakat-kota.html pada tanggal 1 juni 2009

Setyawan, Juswan. 2008. Masyarakat Berbasis Rasa Malu atau Rasa Bersalah. Online diakses di http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20080323212748 pada tanggal 1 juni 2009

Wahyudi, Dedy. 2009. Sosiologi (Kamanto). Online diakses di http://podoluhur.blogspot.com/2009/05/sosiologi-kamanto.html pada tanggal 1 juni 2009.

2 komentar:

lovescokelat mengatakan...

mba, numpang ngopi postingannya.. buat pusataka tugas akhir saya. trimakasi.

Anonim mengatakan...

maksih buat postinganya, berguna bgt buat skripsi saya ...